Minggu, 18 November 2012

Wawancara: Apa dan Bagaimananya

Oleh: Muhammad Ziyad Azad




Wawancara merupakan sesuatu yang penting dalam kaitannya dengan banyak hal. Menurut situs www.slideshare.net, wawancara bahkan diperhitungkan sebagai senjata politis, industri, dan sebagainya. Oleh karena itu, tulisan ini akan berbicara mengenai wawancara menurut apa dan bagaimananya.

Secara bahasa, menurut situs kamusbahasaindonesia.org maupun dalam artikata.com, wawancara dimaknai sebagai tanya jawab dengan seseorang yang diperlukan untuk dimintai keterangan atau pendapatnya mengenai suatu hal, untuk dimuat dalam surat kabar, disiarkan melalui radio, atau ditayangkan pada layar televisi. Wawancara juga berarti tanya jawab direksi perusahaan dengan pelamar pekerjaan; atau tanya jawab peneliti dengan narasumber. Jadi, wawancara – atau interview dalam bahasa Inggris –dihubungkan dengan banyak hal, baik jurnalistik, pekerjaan, maupun dengan penelitian.

Sementara itu, secara istilah pengertian wawancara berbeda-beda. Hal itu bergantung kepada “siapanya”. Dengan kata lain, setiap orang sangat mungkin memiliki pemahaman subjektif mengenai wawancara. Tidak heran jika pengertian wawancara sangat banyak dan berbeda-beda.


Charles Stewart dan W.B. Cash, mereka menyebut wawancara sebagai sebuah proses komunikasi berpasangan dengan suatu tujuan yang serius dan ditetapkan sebelumnya, yang dirancang untuk bertukar prilaku dan melibatkan tanya jawab. Robert Kahn dan Channel mengatakan, wawancara adalah suatu pola yang berupa interaksi verbal untuk suatu tujuan tertentu dan difokuskan pada sejumlah bidang tertentu pula. Sementara menurut Koentjaraningrat, wawacara adalah suatu cara yang digunakan untuk tujuan sebuah tugas tertentu dalam mendapatkan keterangan dan pendirian verbal seorang responden, dengan cara bercakap-cakap berhadapan muka. Daphne M. Keats mengatakan, wawancara adalah situasi yang dikontrol, di mana seorang pewawancara mengajukan serangkaian pertanyaan kepada orang lain untuk mendapatkan respon. Denzig juga mengatakan, wawancara adalah suatu percakapan terpimpin dan tercatat, atau suatu percakapan secara tatap muka untuk memperoleh informasi dari orang lain. Sedang menurut Lexy J. Moleong, ia menganggap wawancara sebagai percakapan dengan maksud-maksud tertentu, yang dilakukan oleh dua orang: antara pewawancara dan responden.

 Dari sekian pengertian itu bisa disimpulkan bahwa wawancara merupakan dialog yang berlangsung dalam sebuah kesempatan di mana interviewer mengajukan serangakaian pertanyaan kepada responden untuk memperoleh informasi-informasi tertentu secara verbal, dan informasi-informasi itu kemudian dicatat guna memenuhi tuntutan tugas-tugas jurnalistik, pekerjaan, atau penelitian.

Secara umum, biasanya wawancara dimaksudkan untuk memperoleh informasi verbal, baik berupa fakta maupun opini responden. Hal itu dilakukan berkaitan dengan tugas-tugas tertentu, misalnya jurnalistik, pekerjaan, atau penelitian. Dengan informasi-informasi itu, seorang interviewer bisa memahami dan memecahkan suatu persoalan, menetapkan suatu keputusan, menjadikannya berita, dan lain-lain. Cuma, dengan catatan informasi-inforamasi itu haruslah yang lengkap, akurat, dan fair.

Berdasarkan tujuannya tersebut, maka wawancara dibedakan menjadi beberapa model: (1) the employment interview, yaitu wawancara yang tujuannya adalah memperoleh gambaran sifat-sifat seseorang yang dibutuhkan oleh pekerjaan; (2) informational interview, yaitu wawancara yang dimaksudkan untuk mendapatkan informasi tertentu; (3) administrative interview, yaitu wawancara yang dilakukan untuk kepentingan administrasi, misalnya untuk mengadakan change in behavior suatu organisasi; dan (4) conceling interview, yaitu wawancara guna keperluan konseling.

Berdasarkan bentuknya, menurut Floyd G. Arpan, wawancara memiliki beberapa model, yaitu: (1) personal interview, yakni wawancara sosok pribadi; (2) news interview, yakni wawancara berita; (3) man in street interview, yakni wawancara jalanan; (4) casual interview, yakni wawancara sambil lalu; (5) telephone interview, yakni wawancara lewat telpon; (6) written interview, yakni wawancara tertulis; dan (6) discussion interview, yakni wawancara kelompok.

Pembagian yang lain mengenai bentuk wawancara, di antaranya: (1) wawancara berita (news interview) atau wawancara untuk dijadikan berita, (2) prepard question interview atau wawancara yang pertanyaan-pertanyaannya disiapkan lebih dulu; (3) telephone interview, yakni wawancara lewat telpon; (4) personal interview, yakni wawancara sosok pribadi; (5) wawancara dengan banyak orang untuk mengetahui pandangan umum; (6) group interview, yakni wawancara kelompok.

Selanjutnya, berdasarkan sifatnya, wawancara dibagi ke dalam: (1) wawancara langsung, maksudnya adalah wawancara yang dilakukan untuk memperoleh keterangan mengenai orang yang diwawancarai; (2) wawancara tidak langsung, maksudnya seorang interviewer berwawancara dengan seorang responden mengenai orang lain atau sesuatu yang lain; (3) wawancara incidental, artinya adalah wawancara yang dilakukan sewaktu-waktu bila dianggap perlu; dan (4) wawancara berencana, yaitu wawancara yang dilakukan secara berencana.

Wawancara memiliki kelemahan sekaligus juga kelebihan. Kelemahan wawancara di antaranya adalah: proses wawancara membutuhkan waktu yang lama; keberhasilan hasil sangat tergantung dari kepandaian pewawancara untuk melakukan hubungan antar manusia; wawancara tidak selalu tepat untuk kondisi-kondisi tempat yang tertentu; wawancara sangat mengganggu kerja responden bila waktu yang dimiliki sangat terbatas. Sedang di antaran kelebihannya, yaitu: wawancara memberikan kesempatan kepada responden untuk mendorong responden menjawab dengan bebas dan terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan; memungkinkan responden untuk mengembangkan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan situasi yang berkembang; interviewer dapat menilai kebenaran jawaban yang diberikan dari gerak-gerik dan raut wajah orang yang diwawancarai; dan interviewer dapat menanyakan kegiatan-kegiatan khusus yang tidak selalu terjadi.

Bagaimanakah cara berwawancara? Secara garis besar, langkah-langkah berwawancara dirumuskan sebagai berikut: Pertama, persiapan yang meliputi upaya-upaya menentukan tujuan; menetapkan bentuk pertanyaan; menetapkan responden yang diperkirakan; menetapkan jumlah responden yang akan diwawancarai; menetapkan jadwal pelaksanaan wawancara; dan mengadakan hubungan dengan responden; Kedua, pelaksanaan yang meliputi upaya-upaya memilih pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar terarah dan dibutuhkan dalam rangka mengumpulkan informasi; dan mengadakan wawancara. Ketiga, penutup yang meliputi upaya-upaya menyusun laporan wawancara secara sistematis; mengadakan evaluasi tentang pelaksanaan wawancara; dan mengadakan diskusi tentang hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan wawancara.


__________________



Referensi:


  1. http://kamusbahasaindonesia.org/wawancara/mirip
  2. http://artikata.com/arti-356604-wawancara.html
  3. http://p4mristkippgrisda.wordpress.com/2011/04/20/wawancara-portofolio-walkthrough/
  4. http://teorikuliah.blogspot.com/2009/09/pengertian-wawancara-tv-tujuan-dan.html
  5. http://www.slideshare.net/UJANGKETUL/11-wawancara


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar